January 16, 2006...11:46 pm
berubah
Sejak menetas aku tidak pernah bertemu dengan indukku. Bersama dengan pecah-tetas ratusan lainnya aku mulai menjelajah dan mempelajari dunia. Ujung daun tempatku menetas, ranting tempat daun itu bergantung, cabang tempat ranting itu tumbuh, dahan tempat cabang itu bertahan, batang tempat dahan itu menopangkan diri, dan seluruh pelosok pohon tempat milyaran makhluk tuhan lainnya hidup.
Di bagian akar aku bertemu dengan rayap yg dengan pongahnya memuji indahnya sinar matahari dibalik kebutaan matanya. Lebih keatas aku bertemu dengan lumut lembab yg hampir membuatku tergelincir dengan lendirnya. Barisan semut hitam dan merah yg berjalan dengan rapi pada jalur masing-masing, mereka tampak disiplin. Suara mendengung seekor kumbang seolah menjadi pengingat mentari untuk selalu terbit di pagi hari. Sepasang burung gereja sedang bersibuk dengan rerumputan yg mereka susun menjadi sarang. Belalang sembah yg menari mesra dengan sekumpulan lebah madu turut memeriahkan suasana dunia pohonku. Dunia hijau segar berhias bunga berwarna merah jingga lembayung.
Aku menikmati hari-hari itu. Hari-hari penuh kemalasan dan permainan, hanya aku dan dunia pohon dengan tetangga-tetangga unik yg ramah dan menyenangkan.
Suatu ketika saat aku sedang bermandi nektar dalam sekuntum muda bunga, tempat aku bersembunyi dari kejaran burung pelatuk, aku dikejutkan oleh bunyi berisik yang semakin mendekat.
“Burung gereja?” pikirku.
“Untuk apa dia mendekat sekuntum bunga yang bahkan belum sempurna mekarnya.”
“Suara lebahkah? Atau kumbang? Atau mungkin demonstrasi dari semut merah yang merasa diambil lahan kerjanya oleh serombongan rayap yang baru datang kemarin lusa?”
“Bukan, ini bukan bunyi dari tetangga-tetangga unikku, ini suara baru, pendatang baru, dan aku harus menyiapkan sebuah pesta kecil untuk menyambutnya”
Perlahan kugerakkan tubuh yang sekarang telah terseliput sempurna dengan timbunan lemak-malas hasil metabolisme yang sangat tidak seimbang seumur hidupku.
Menakjubkan! Pikirku saat kulihat sepasang sayap yang terentang dengan anggunnya menutupi silaunya sinar matahari sekeluarnya aku dari berlapis mahkota bunga tempatku bermalas tadi. Motif lingkaran berwarna pelangi yang terlukis indah menutupi sepasang sayap itu melebihi semua keindahan yang pernah tertangkap oleh ribuan sel faset mataku. Paduan mesra antara jingga, hijau dan ungu lembayung, mengesankan keharmonisan alami antara makhluk itu dan bunga tempatku mengintipnya sedari tadi.
Sepasang sayap itu berporos pada sesosok tubuh langsing jauh dari gambaran badanku yang tambun. Dan sepasang antena yang menjulang dari sela-sela pasangan mata jernih itu seolah mampu menangkap bahkan gerakan plankton ratusan mil dari sini.
“Makhluk ini malaikat!” bisikku ketika tiga pasang kaki jenjangnya mendarat tepat diujung putik tempatku tadi melahap nektar.
“Selamat pagi” Sapanya membuka percakapan. “Aku kupu, asalku dari utara, aku sedang mencari sari nektar murni yang menyehatkan badanku.” Dia memperkenalkan diri.
“Aku ulat.” Aku menjawab singkat untuk menutupi rasa takjubku pada indah bentang sayapnya. Tapi sepintar apapun aku mencoba untuk menyembunyikan pandangan takjubku, dia tahu.
“Ada yang salah dengan penampilan saya?”
“Dari mana kamu mendapatkan sayap indah itu?”
“Kamu belum pernah melihat yang seperti ini?” Dia mengepakkan sayapnya.
“Sama sekali, kukira kamu malaikat seperti yang pernah disebut oleh belalang sembah dalam doa-doanya. Lalu benda apa itu yang keluar dari mulutmu?”
“Ini proboscis. Dengan ini aku menyerap nektar. Inilah mulutku.”
“Menakjubkan!” Aku terkesima.
“Kamu tahu, ada hal yang lebih menakjubkan dari sekedar mulut belalai ini.”
“Apa?”
“Aku pernah sepertimu, menjadi ulat.”
“Hahahaha.Tidak mungkin.” Aku menyangkal.
“Tiap kupu-kupu pasti terlahir dari kepompong, dan semua kepompong dihasilkan dari liur dan keringat ulat yang akan menempatinya, seperti kamu.”
“Ulat sepertiku?!”
“Ya sepertimu. Beberapa hari lagi kamu pasti akan merasakan apa yang telah aku alami tiga minggu lalu. Kamu akan mengalami rasa lapar tanpa alasan yang sangat menyiksa sehingga kamu harus selalu makan sepanjang hari. Kulihat kamu sudah memasuki tahap itu.”
Saat itu juga aku menghentikan rutinitas mandi nektarku dan mulai menyadari bahwa akhir-akhir ini nafsu makanku mulai meningkat. Kupu-kupu itu mendapatkan perhatianku.
“Kamu tidak akan pernah merasa kenyang sebanyak apapun kamu mengunyah daun dan menjilati manis nektar.”
“Tahap berikutnya adalah tahap yang sangat menjijikkan bagiku ketika tanpa bisa kamu kontrol tubuhmu akan mengeluarkan cairan seperti keringat tapi sangat kental dan lengket. Lendir ini akan menempel disetiap tempat yang kamu singgahi dan menjadikannya kotor sampai kamu benar-benar tidak bisa menggerakkan tubuh lagi. Mungkin karena lendir itu sudah terlalu banyak menjerat tubuhmu atau bisa juga karena memang tubuhmu sudah terlalu gemuk. Kamu akan tampak sangat menjijikkan.”
“Lalu apa yang terjadi?” Aku menunjukkan seringai jijikku.
“Lendir yang membalur tubuhmu perlahan mengeras dan benar-benar membuatmu tidak bisa bergerak. Kamu menjadi kepompong. Percayalah kamu akan tampak sangat buruk.”
“Aku sudah terbiasa dengan itu. Lanjutkan!”
“Setelah saat-saat penuh lendir yang menjijikkan itu, kamu akan memasuki tahap yang paling menyakitkan. Setelah beberapa hari dalam kepompong sempit dan gelap itu, tubuhmu akan mencair.”
“Mencair katamu?”
“Ya mencair seperti air. Tubuhmu akan meleleh menjadi cairan hijau yang lembut. Mungkin tidak semua, setidaknya mata fasetmu akan tetap ditempatnya untuk beberapa hari. Dan itu sangat menyakitkan. Bisa kamu bayangkan, perut gendutmu perlahan melembek karena rasa panas dari dalam lambungmu saat seluruh isinya meleleh menjadi cairan berwarna hijau. Kesadaranmu mulai hilang setelahnya. Dan kamu akan tertidur. Kamu bermetamorphosis.”
“Metamorphosis?”
“Semua proses yg telah aku ceritakan untukmu bernama metamorphosis. Hanya dengan metamorphosislah semua kupu di dunia ini terlahir.”
“Mengapa harus begitu?”
“Itu takdir kita kawanku.”
“Takdir?”
“Sekarang kamu hanya seekor ulat yang hanya bisa merayap diantara dedaunan pohon, yang kamu lakukan sehari-hari tidak akan jauh dari perenungan atas kelambanan dan kegemukan tubuhmu yang akan terus memunculkan semua keburukan dirimu.”
“Ya, itulah yang kulakukan sehari-hari.”
“Dan memang begitulah seharusnya, sadari betul semua kekuranganmu, pelajari sebab dan asal dari kekurangan itu hingga semua bagian tubuhmu mengetahuinya dan perlahan secara alamiah akan menemukan cara untuk mengatasinya.”
“Dan kepompong adalah tempat yang tepat untuk mengubah diri.” Aku mencoba untuk memotongnya saat dia mencari permukaan lain di ujung putik untuk menancapkan proboscisnya.
“Tepat sekali. Kepompong adalah ruang sempit yang akan menaikkan derajatmu. Semua sikap diam dan sabarmu dalam kepompong akan membawamu pada bentuk baru yang akan menerbangkan mata, hidung dan telingamu mengindera semesta.”
Mengindera semesta? Menarik! Aku sekarang hanya mampu untuk melihat matahari terbit dari ujung dahan di pagi hari, membaui segarnya lendir lumut hijau di siang hari dan mendengar burung gereja bercerita tentang tempat-tempat yang menakjuban sebagai pengantar tidur anak-anak mereka tiap malam.
Aku ingin mempunyai sayap seperti malaikat itu dan pergi ke tempat-tempat dalam cerita burung gereja.
“Jika kepompong adalah saat untuk benar-benar berdiam, lalu bagaimana aku bisa bersembunyi saat Sang Pelatuk tertarik dengan warna kepompongku?”
“Itulah pertaruhannya kawan, kamu harus memilih antara menunggu jatuh ketanah saat kaki gemukmu benar-benar telah tidak mampu menahan berat badanmu sedangkan kamu bisa saja menjadikannya jenjang dan terbang ke langit.”
“Ah sudahlah, aku terlalu banyak bercerita, lalu dimana bagianmu untuk mengalami dan menikmati setiap detik perubahanmu nanti saat sayap-sayapmu mulai terbentang?” Kupu-kupu itu melanjutkan sambil sesekali memperbaiki posisi kakinya.
“Benar juga. Aku harus mengetahuinya sendiri. Suatu saat aku akan menjadi sepertimu bahkan mungkin lebih indah.”
Kemudian kami terdiam dan tenggelam dalam lamunan kami masing-masing.
Leave a Reply