Selama ini ternyata saya salah persepsi akan istilah IT sebagai pemandu bisnis perusahaan. Dulu saya berpikiran bahwa jika sebuah perusahaan telah menetapkan IT sebagai business driver maka ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh perusahaan tersebut antara lain:
1. Memiliki direktorat IT (atau yang sejenisnya) sebagai tanda bahwa IT merupakan salah satu unsur penentu kebijakan dalam perusahaan tersebut.
2. Memiliki infrastruktur IT yang sebanding dengan kebutuhan perusahaan.
3. Telah mempunyai budaya IT dalam pelaksanaan operasionalnya.
4. Memiliki kesadaran lahir batin yang telah merasuk kedalam benak tiap karyawan perusahaan bahwa IT akan membenarkan jalan mereka dan menggiring mereka mewujudkan tujuan perusahaan.
Dengan berbekal pemikiran-pemikiran tersebut, saya semakin meyakinkan diri saya bahwa kebanggaan yang telah saya tanamkan dalam diri saya akan semakin besar jika saya benar-benar telah merasakan hikmah urgensi IT di perusahaan. Bahwa suatu saat, bisnis Garuda Indonesia akan diambil alih oleh IT dan itu berarti jasa IT untuk membangun Indonesia juga akan semakin besar.
Harapan saya memang tidak sepenuhnya salah pada minggu-minggu pertama saya diperkenalkan dengan meja kerja saya. Saya melihat keseriusan dari pihak manajemen untuk meprioritaskan IT sebagai bagian yang tidak kalah penting dari divisi flight operational yang notabene merupakan core bisnis Garuda Indonesia. Pembentukan direktorat Strategi dan IT yang menaungi divisi Corporate Planning adalah sebuah bentuk komitmen dari pihak manajemen karena saya menganggap dari divisi corporate planning inilah kebangkitan IT di Garuda Indonesia akan dimulai.
Saat penempatan, saya diposisikan untuk mengabdi pada divisi Information System Solution yang merupakan bagian dari direktorat Startegi dan IT satu level dengan divisi Corporate Planning. Semakin hari pandangan awal saya perlahan mulai berubah. Hal ini karena dalam beberapa project yang saya tangani, saya masih belum bisa merasakan peran “pemandu” dalam mengarahkan bisnis perusahaan. Yang saya temui adalah peranan IT – atau mungkin akan lebih pas jika dipersempit menjadi divisi saya – sebagai bisnis enabler yang cukup sebatas memfasilitasi divisi lain untuk melaksanakan tugas mereka. Dan hal ini semakin diperjelas seiring semakin banyaknya project yang melibatkan saya didalamnya.
Saya kecewa.
Kekecewaan saya akhirnya menemukan forum yang tepat untuk dibagi dengan rekan-rekan saya pada sebuah pertemuan serah terima jabatan di sub-divisi saya. Ketika saya diberi kesempatan untuk berbicara, saya mengutarakan apa yang selama ini saya bayang dan rasakan. Saya menanyakan dimanakah letak “kepemanduan” IT jika ternyata kondisi kenyataannya divisi IT-lah yang dipandu oleh divisi lain. Pertanyaan saya disambut dengan sebuah diskusi hangat mengenai definisi IT sebagai pemandu dan kondisi kekinian divisi IT di Garuda Indonesia.
Dari diskusi tersebut saya menyimpulkan dua point utama yang harus saya tanamkan dalam diri saya:
- Untuk bisa menjadi driver, divisi IT harus benar-benar tahu arah dari perusahaan. Akan sangat aneh jika ada pemandu yang masih harus bertanya-tanya tentang tujuan perjalannya.
- Dibutuhkan pengetahuan tentang seluk-beluk perusahaan dan bagaimana perusahaan ini dijalankan. Karena tanpa tahu proses bisnis perusahaan, mustahil divisi IT akan bisa menciptakan startegi-strategi yang baik untuk perusahaan.
Pada sebuah kesempatan diskusi lain, saya memperoleh pencerahan tentang definisi IT sebagai strategic tools perusahaan. Disinilah saya benar-benar tersadarkan bahwa saya salah mendefinisikan penggunaan IT sebagai startegic tools yang bisa memandu kinerja perusahaan.
Diskusi tersebut jika diringkas sesuai dengan kebutuhan tulisan ini akan menjadi beberapa point berikut:
- Bedakan antara IT sebagai sebuah tools (product) dan divisi IT sebagai kumpulan individu yang menjalankannya.
- Yang dimaksud IT sebagai startegic tools (atau yang dalam tulisan ini disebut business driver) bukan berarti divisi IT (individu yang berada didalamnya) mempunyai peranan lebih dari divisi lain sehingga bisa menentukan arah bisnis perusahaan.
- Namun, yang disebut IT sebagai startegic tools adalah penyebutan IT sebagai product bukan divisi atau individu. Jadi ketika perusahaan telah “menyerahkan” keputusan-keputusan startegisnya berdasarkan infrastruktur IT yang ada di perusahaan tersbut, maka bisa dikatakan bahwa perusahaan tersebut telah menggunakan IT sebagai driver business nya. Semakin critical strategi yang dihasilkan oleh IT dan semakin besar penggunaan IT dalam menentukan arah perusahaan, maka semakin optimal-lah IT menggerkkan perusahaan.
- Sekali lagi IT sebagai product bukan divisi.
Setelah mendapatkan pencerahan ini dan menengok kebelakang, saya baru menyadari bahwa yang telah saya lakukan selama ini di divisi saya mungkin saja sudah termasuk dalam menjadikan IT sebagai driver perusahaan meskipun keputusan-keputusan yang dihasilkan dari aplikasi yang saya kembangkan masih belum sangat critical bagi kinerja perusahaan. Tapi saya sudah menunjukkan.
Ulasan ini sama sekali tidak didasari oleh panduan ilmu management dan yang sejenisnya, jadi jika ada yang salah mohon dikoreksi.
Saya masih belajar. Garuda Indonesia, Matangkan Saya!!!!
6 Comments
June 23, 2008 at 10:37 am
pertamax….
. Saya setuju dengan pendapat bahwa sama saja cepat atau tidaknya orang belajar, dari orang IT mempelajari business process dibanding orang yang mengerti business process dalam mempelajari IT. Yang membedakan hanya kemauan dan sejauh mana orang itu dapat membuka mata dalam belajar.
dengan mempunyai direktorat sendiri untuk IT tidak serta merta IT langsung menjadi driver perusahaan, itu kan langkah awal dari sebuah cita-cita orang IT. Dan sebagai orang IT, memang harus dibuka mata kita bahwa banyak hal yang bisa dipelajari diluar IT, yang setidaknya bisa mendukung kita sebagai orang IT, dan tidak hanya sebagai fasilitator tapi bisa dipandang sebagai business driver.
August 14, 2008 at 7:42 pm
good posting bro knip.
menurut saya divisi IT harus memiliki pandangan tentang core bisnis perusahaan. jangan cuma dipegang oleh unit Game Center (of) aja. nti perusahaan jadi ngga valid lagi, cepek deeeh.
menurut gw IT di garuda yang sekarang adalah salah satu percontohan IT sebagai strategic tools bagi perusahaan ini. dan menurut gw dengan adanya IT perusahaan seharusnya bisa lebih produktif dari sisi sales, efisiensi dari sisi SDM, quality dari sisi operasional, dan meningkatkan OTP .
*ngecap mode ON*
September 5, 2008 at 12:26 am
mantap bgt!
sc wali ku neh , bangga bgt , hehe
sekali2 mampir mas
September 9, 2008 at 1:30 pm
@denis n cowok: widiw.. jadi serem ndiri gw liat komen orang2 ini.. semangat aja brow…
@prasta: tenkyu dah mampir… udah g jaman sc2-an pras.. status kita sama… pembangun negri!!! [kapan2 aku mampir..]
August 14, 2009 at 11:26 am
kl maw masuk pkwt GA gmn siih???? pengen soalnya…
August 14, 2009 at 11:28 am
help me ya…