September 26, 2008...12:47 pm

Bapak.

Jump to Comments

When King Lear dies in Act 5, do you know what Shakespeare has written? He’s written, “He dies”. That’s all, nothing more. No fanfare, no metaphor, no brilliant final words. The culmination of the most influential work of dramatic literature is: “He dies”.

It takes Shakespeare, a genius, to come up with “He dies”. And yet every time I read those two words, I find myself overwhelmed with dysphoria. And I know it’s only natural to be sad, but not because of the words “He dies”, but because of the life we saw prior to the words. – Mr. Edward Magorium

Selama ini saya masih mencari dan menyusun kata-kata yang tepat buat melukiskan peristiwa meninggalnya bapak sejak beliau meninggal.. rasa hormat ke bapak menghalangi saya untuk menulis dan menceritakan kebaikan dan keburukan beliau bahkan sekedar untuk bisa dibagi kepada sesama supaya bisa jadi bahan belajar.

Namun setelah beberapa malam ini beliau “berkunjung” ke mimpi saya sebagai bentuk memuncaknya rasa rindu saya kepada beliau, maka pagi ini setelah makan sahur saya bertekad untuk mulai berusaha sekuat mungkin berbagi tentang beliau.

Quote diatas diucapkan oleh Mr. Edward Magorium dari film Mr. Magorium’s Wonder Emporium ketika Magorium berpamitan kepada salah satu pegawainya untuk “berpulang” dan menyerahkan hak kepemilikan tokonya kepada pegawai kesayangannya itu.

Saya bersepakat dengan Margorium. Sebenarnya bukan peristiwa kematian seseorang yang membuat kita menjadi histeris dan menangis. Namun karena banyak dari kita yang tidak mampu menahan rasa sakit dari serangan kisah-kisah kebaikan yang dimiliki almarhum yang secara bertubi-tubi meghujam kehati dan ingatan kita, serta kebodohan kita yang masih belum bisa mengoptimalkan usaha dalam menyenangkan almarhum.

Saya memperoleh kabar beliau meninggal dari kakak saya subuh hari diakhir bulan Juni. Hal pertama yang saya ingat melintas di benak saya waktu itu adalah bahwa saya belum memberangkatkan beliau untuk berkunjung ke Tanah Suci menunaikan ibadah Haji, satu hal yang sudah menjadi impian saya sejak kecil. Berikutnya satu per satu ingatan tentang Bapak melintas diikuti dengan ribuan rasa penyesalan karena belum sempat membalas dan membahagiakan beliau, dan itu sangat menyakitkan. Saya menangis, saya menjerit, saya sakit.

Setelah menenangkan diri untuk mendaratkan emosi saya beberapa saat kemudian, saya mencoba untuk menjadi rasional dengan mengikhlaskan atau lebih tepatnya mencari pembenaran-pembenaran untuk semua penyesalan saya demi mengurangi rasa sakit tadi. Ketika saya sudah merasa cukup tenang untuk bercerita, saya segera menghubungi beberapa family untuk meneruskan berita duka ini kemudian bergabung dengan keluarga di Demak menyelenggarakan upacara pemakaman.

Kulihat raut muka Bapak. Damai, tenang, dihiasi dengan sedikit senyum bentukan bibirnya.

Ini adalah pertama kalinya saya menyentuh jasad manusia yang telah ditinggalkan kehidupannya. Tubuh Bapak dingin ketika kupegang dan kuangkat untuk dikafani.

Sekuat tenaga kusimpan saat-saat terkahir bersama bapak. Kuhirup dalam-dalam bau tubuh beliau, kupandang lekat wajah beliau, kuusap-usap kulit beliau, kubisikkan betapa saya menyayangi beliau, kusampaikan rasa terimakasih saya atas segala bahagia saya karena beliau, kuhaturkan permintaan maaf atas segala sedih yang beliau rasakan karena saya. Jika diperkenankan, saya ingin sekali bercerita panjang lebar tentang perkembangan hidup saya kepada beliau meskipun beliau tidak akan pernah mendengar dengan telinganya lagi.

Selamat jalan bapak..
Semoga kasih dan sayang Allah selalu menyelimuti dan menghangatkanmu..

4 Comments

  • “ayah dengarlah betapa sesungguhnya kumencintaimu, kan kubuktikan kumampu penuhi maumu,,,”

    ADA BAND

  • ayah dengarkanlah aku akan berusaha menjadi orang yg kelak berguna bagi nusa dan bangsa !!!!!!!!!!!!!!

  • ayah………. dyah sayang sama ayah .. dyah harap ayah cepat sembuh terima kasih untuk semua yang telah diberikan untuk kami ……maafkan dyah yang hanya bisa memberikan kekecewaan…….. seandainya waktu bisa berputar kembali. i love you so much Ayah Iswono

  • Subhanallah.. mataku sampe berkaca-kaca baca postingan ini. Beliau disana pasti bangga mempunyai anak laki-laki yang selalu mendo’akan kedua orang tuanya.. :)


Leave a Reply