Cantik

“Apa yang kau maksudkan dengan cantik?”
“Letak dan bentuk tulang yang tepat, diikat oleh daging yang tepat pula.”
“Kulit yang halus-lembut, mata yang bersinar dan bibir yang pandai berbisik.”
*disadur dengan pengeditan seadanya dari Bumi Manusia -nya pak Pram

Bertahun sudah kujalani hidup dengannya.
Mengolah rangkaian waktu, menjadikannya lebih bermutu.
Satu dua masalah terhempas, melampaui lelah berusaha untuk menyintas.
Menengok kebelakang, hanya untuk mengatakan kita kuat saling menopang.

Bertahun sudah kujalani hidup dengannya.
Cerah senyumnya merekah, meringankan kaki ini untuk tetap menapakkan langkah.
Renyah tawanya sederhana,  menyuburkan semangat bahwa lelah ini bermakna.
Lembut suaranya saat rehat, membesarkan azzam untuk selalu menebar manfaat.

Bertahun sudah kujalani hidup dengannya.
Dimula dengan hanya berdua, berbanyak sudah Kami sekarang.
Menghitung hari semakin menua,  bersama tegak lewati perintang.
Menghimpun bekal untuk semua, memilih jalan lurus dari yang penuh cabang.

Bertahun sudah kujalani hidup dengannya.
Melepas arti bahagia sendiri, merajut ulang makna senang hakiki.
Saling bantu memantaskan diri, memperlancar jawab saat bertemu Ilahi.
Menjaga diri dan buah hati, menghindar dari panasnya api.

Bertahun sudah kujalani hidup dengannya.
Memahami cantik bukan dari paras yang akan menjadi lawas.
Memaknai cantik bukan dari tulang yang akan lemah merenggang.
Meyakini cantik bukan dari kulit halus yang akan tergerus.

*rangkai kata ini mulai ditulis pertengahan September 2010 ^_^

Advertisements

Ayah:Handphone vs Pintu Gerbang – part2

Setelah gw berangkat ke Palangkaraya, hal pertama yang gw cek adalah fasilitas supporting baby. Apakah palangkaraya cukup ramah untuk merawat bayi. Dan sungguh disayangkan, dari informasi yang gw dapet di hari-hari awal gw tinggal disitu, jawaban untuk pertanyaan itu adalah a big no..

RS g ada yg support ASI. Gak ada KL. List nama dsa-nya gak ada yang beredar di google. Belum kl denger cerita kualitas dsa-dsa dari anak-anak kantor.. “kl anak saya sakit, mending saya bawa ke Banjar atau ke Jakarta sekalian Mas. Suka ngasal dsa sini.” kata seorang temen di kantor. Ngeri euy.. Continue reading

Tagged , ,

Ayah:Handphone vs Pintu Gerbang – part1

Ceritanya dimulai ketika gw dipanggil ke kantor buat presentasi kerjaan pas lagi siaga 1 HPL. Kelar presentasi, langsung capcus balik ke rumah buat standby.

Singkat kata singkat cerita, anak gw lahir. Yg harusnya di HPL-in tanggal cantik 09-10-11, agak molor 2 jam, jatuhnya udah di tanggal 10-10-11.

3 hari setelah lahiran, hari pertama anak gw ‘pulang’ kerumah, bos gw telpon. Gw dipaksa dateng ke kantor saat itu juga. Penting dan menyangkut hajat hidup orang banyak kata dia.

Setelah mohon pamit sama binik. Berangkatlah gw ke kantor. Dan jegeeer… Gw dimutasi ke Palangkaraya untuk ngisi sebuah posisi disana. Kata bos gw, “It’s now or never. Ini kesempatan lo buat muncul. Kl gak lo ambil, bisa jadi lo di blacklist karena nolak rejeki. Dan kl lo setuju besok lusa berangkat.”
Continue reading

Tagged , ,

Life in a Day

It’s been far too long since I have this massive urge to start writing like what I feel tonight. It’s about a movie I just watched. You may call this writing as a movie review, but it’s not.

Since my childhood, I travel a lot, more than my two other siblings for sure. I’ve been living separated from my family members when I was 12. I’m attending a boarding school 4 hours bus ride away from home for three years, goes to another boarding school 500 miles away for another three years. With my family financial condition, I only have this two weeks window for visiting my family back at home at my holiday which only occurs twice a year.

And this condition continued until I get my bachelor degree. Continue reading

Tagged

Cinta Mereka

Pancaran kasih sayang mereka terpancar dari bagaimana si nenek memapah suaminya menyeberang jalan. Semburat cinta itu mendinginkan jalanan yang telah berbulan-bulan ini kering dari hujan.

Continue reading

Bapak.

When King Lear dies in Act 5, do you know what Shakespeare has written? He’s written, “He dies”. That’s all, nothing more. No fanfare, no metaphor, no brilliant final words. The culmination of the most influential work of dramatic literature is: “He dies”.

It takes Shakespeare, a genius, to come up with “He dies”. And yet every time I read those two words, I find myself overwhelmed with dysphoria. And I know it’s only natural to be sad, but not because of the words “He dies”, but because of the life we saw prior to the words. – Mr. Edward Magorium

Selama ini saya masih mencari dan menyusun kata-kata yang tepat buat melukiskan peristiwa meninggalnya bapak sejak beliau meninggal.. rasa hormat ke bapak menghalangi saya untuk menulis dan menceritakan kebaikan dan keburukan beliau bahkan sekedar untuk bisa dibagi kepada sesama supaya bisa jadi bahan belajar. Continue reading

Tagged

recreation

Weekend kemaren gw sempat ngobrol2 sama temen kuliah gw, salah satu kesimpulan yang bisa gw share ke sini itu bahwa gw masih belum nemu metode rekreasi yang tepat buat istirihat dan me-rileks-kan body + pikiran gw.. Continue reading

Tagged , ,

IT sebagai pemandu bisnis perusahaan

Selama ini ternyata saya salah persepsi akan istilah IT sebagai pemandu bisnis perusahaan. Dulu saya berpikiran bahwa jika sebuah perusahaan telah menetapkan IT sebagai business driver maka ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh perusahaan tersebut antara lain:

  Continue reading

first days in Garuda Indonesia

Alhamdulillah, hasil jerih payah gw mendaftar, berkali-kali pulang  pergi jakarta surabaya berbuah manis. Gw akhirnya terdaftar sebagai pegawai PT. Garuda Indonesia Airlines dengan status PKWT (Perjanjian Kerja Waktu Tertentu – or so called berstatus karyawan kontrak) terhitung sejak 02 April 2008 setelah melewati masa-masa sulit di Pusdikpom kota Cimahi (yang akan gw ceritakan detil kemudian) dan beberapa pelatihan persiapan calon pegawai (yang probably bakal gw ceritain jugak *jitak gw kl g jadi*). Continue reading

senja

temaram senja mengiring pergimu
kegelapan yang melanda cakrawala semakin menjadi
sewarna dengan kekosongan dalam hatiku
kemana apiku ketika pemantiknya mengering mati
sedangkan mata ini tanpa api hanyalah lubang

rindu saat hangatnya berkorbar…

Advertisements